Wednesday, July 13, 2005

nafas panjang

tak terasa umurmu telah menginjak 25-an. umur yang beranjak ketangga kedewasaan. sebuah masa yang tak lagi ada kata maaf bagi kesalahan. tak sperti dulu, ketika engkau masih seumur pucuk pisang, engkau begitu mudah mendapatkan pemaafan. mereka semua mengerti kalau kau dapat dengan gampang melambai mengikuti arah angin, karena engkau memang belum punya tangkai yang lumayan. tak seperti sekarang, ketika kulitmu yang mulai berurat ulang. beribu pandangan liar membuatmu dalam pengawasan. tapi kau kuat bertahan, sehingga musafir beroleh manfaat kehangatan.
tak terasa umurkupun mulai berbilang, mencoba mengimbangi kedewasaan yang kau wasiatkan. ada begitu banyak cerita yang berkesan. semua menjadi indah sebab engkau menjadi bingkai kehidupan. dahulu suatu kali, kudapati diriku sedang kesusahan. mencari sebab kerinduan. telah banyak pemohon hinggap di pikiran, namun semua begitu mengawan, tak kebumian.
saat puncak kehampaan, datang seorang sobat mengundang. hendak menyelimuti dinginnya perasaan. dia dengan cinta penuh ketuliusan. mengajarkan aku akan arti perkumpulan. akan arti perjuangan, akan arti bagaimana peroleh hakikat kehidupan. tetapi, dia (pahlawanku, pengundang) yang saat ini membuat sedikiit aku penasaran. sebab kenapa dia pergi tak beralasan. meninggalkan aku hampir sendirian. untung sebelum dia bepergian, dirimu dengan diriku seperti ibu dan anak dalam pangkuan. indah niang. jujur aku katakan. usaha dia padaku membuatnya dah berpenghasilan.
dan saat kekinian, tekad dah kubulatkan. untuk bersamamu berjuang, menegakkan kebenaran. yang wujud dalam risalah kenabiyan. tak ingin kulepas detik panjang, yang berbuah kekalahan. berasa tak keenakan. tapi, semuanya manis berujung ingin. karena sebagaimana yang engkau wasiatkan, dari pelajaran nabiyyin, bahwa syurga adalah tempat kesudahan yang mengabadikan para pejuang yang mukhlisin.
ohh. tarbiyah. tak ingin aku melepaskan dirimu dalam pelukan. biarlah beberapa sobat seperjuangan, jadi berguguran. biarlah tak ada yang menemani aku dalam pendirian, tapi aku tetap akan dalam barisan kesetian. sampai takdir datang sebagai keputusan. hidup mulia atau syahid kudapatkan. ohh..nafas panjang...

Monday, July 11, 2005

makassar bisa tonji

ada jiwa terpancar dari frase "makassar bisa tonji".
entah itu jiwa yang bersemangat untuk sadar dari tidur panjang
entah jiwa kanak yang mengakui keterjajahan budaya
atau hanya sebuah pemanis lirik lagu...

yang pasti makassar banyak membuat anak bangsa terkesima

disana, disudut harian berita nasional tertulis dengan font yang di bold.
nurdin halik terda'wah korupsi pada empat kasus...blablablabla
perkelahian kembali terjadi di kampus unhas...LAGI

atau prokem orang orang pasar yang bilang..
" kalo kejakartako dan logat makassarji..tidak diganggumoko itu"....RRUAR BIaSA

atau data statistik akademik kedokteran unhas...
kebanyakan mahasiswa FK unhas berasal dari luar daerah.....Ghitu LOh MAS

atau kelakar teman di eletro ketika mengikuti lomba robot di UI
" mudah mudahan cuma tiga pesertanya, supaya dapat tommiki juara"....tauwwa..

atau.....

entah kapan kepalaku bisa tegak sambil bilang " makassar bisa tonji"




Friday, July 01, 2005

iyyyeee....

iyyeee,,, entah kenapa kata itu begitu indah kedengaran.
seolah meresap kedalam qalbu dan terus meresap. mungkin karena aku orang bugis yah? sehingga menjadi syahdu ia bersemayam. bukan, bukan kerena itu. disana di perkampungan tembok tinggi diseputaran kampus unhas, ada seorang sobat wanitaku yang sedap mengucapkannya, tapi ia bukan orang bugis. ini bukan karena budaya, pikirku. ini adalah jawaban fitrah.
iyyee, sebuah lambang kerendahan, yang menhentikan ombak amarah. ia adalah kekuatan cinta sopan yang meluluh lantakkan keegoisan, dengannya bicara menjadi lebih berarti. mendengar terasa nikmat.
iyyeee, seharusnya menjadi obat, pelipur lara kesepian cinta ukhuwah. sebab dia tak memandang kebajikan pikiran. akan tetapi dia adalah wajah kerendahan hati.
iyyee,,,seharusnya menjadi karakter, hiburan duka. membuat senyuman kembali segar, karena lama tak kedatangan salam kehangatan seorang ikhwah.
iyyeee, inilah kata terindah yang mampu mengikat hati dua orang yang berselisih.
inilah jawaban dari kesengsaraan bunga ukhuwah yang tak lagi mekar indah di hatiku dan dihati mereka. siraman air sejuknya pasti bisa merekatkan kembali, serpihan serpihan bola kaca itu.
iyyeee,,,ini adalah jawaban keimanan...

husnul dan reski ( guru kecilku)


nama kedua anak inilah yang memaksaku untuk menarik kesimpulan,,,bahwa ternyata bukan pengalaman nyuntik yang paling berharga...bukan pula gelaran dokter yang diberikan kepadaku oleh masyarakat tempat baksos itu..akan tetapi hal yang tidak boleh aku lupakan seumur hidupku adalah pertemuan dengan keduanya...mereka bahkan bukan hanya berbasa basi dengan berjabat tangan lalu ngobrol sebentar,,lalu pergi..tetap mereka guru kehidupanku...yang telah memaksa kebekuan air mataku untuk kembali mencair dan melemnbutkan hati yang lama mengeras...
husnul...dia seorang anak perempuan,,,dia yang pada siang itu menjadi bahan tertawaan orang sekitar,,,dia yang mendapat santunan uang dari seorang bapak yang cukup berduait,,,entah karena kasihan atau karena kebetulan dia adalah calon bupati di sana...husnul,,,walau dia tak diberikan Allah penglihatan,,,tetapi dia masih bisa tersenyum dengan senyuman lebih terang dari mentari siang,,lebih indah dari sinaran bulan yang menemani kami pulang dari sana...tak ada penderitaan dari senyumannya,,walau aku tahu dia akan sebel kalau tahu dia sebenarnya ditertawai dengan tingkahnya seperti itu,,atau mungkin dia tlah tahu tetapi tetap bisa tersenyum tanpa kepura-puraan...kusempatkan diri membelainya menggendongnya,,,menemani air mataku yang tak bisa lagi diajak tuk bersembunyi...ini ditengah tawa masyarakat yang terhibur dengan ulahnya...astghfirullah...
reski...guru keduaku disana...bocah ini sempat menangis ketika akan disunnat,,ada bekas air mata disana,,dipelupuk matanya,,jalas sekali aku melihatnya...aku bertanya padanya kenapa menangis,,,apakah sakit disunntik mah ibu dokter...katanya tidak,,,lalu kenapa de'..lanjutnya hanya dengan gelengan kepala..aku jadi bingung...terus kutemani dia dengan belaian,,,sambil menuntunnya berdzikir...kulihat dia blum selesai dengan tangisnya,,tetapi bukan dimatanya,,dia menyembunyikannya dalam dasar qalbunya...sekali lagi,,,aku jadi menangis...walau tak kutampakkan dihadapannya,,,malu aku...aku juga menyembunyikannya...keharuan di hati ternyata bukan hanya karena jawaban yang tak kunjung kudapatkan dari tangis yang dipendamnya..alam tetapi,,ternyata dia adala bocah yang juga cacat,,,kalau husnul tak dikaranuai mata,,maka reski tak disempurnakan jari jemarinya,,dan juga cacat di satu tangan dan satu kakinya...subhanallah,,,Allahu akbar..yaa Allah engkau maha kuasa atas semua ini...dan keharuanku terus bertumpuk padanya...betapa tidak,,,setelah dia selesai disunnat,,,aku bermaksud untuk memapahnya agar tidak terlalu berat bebannya,,akan tetapi dia menolaknya..katanya biar aku jalan sendiri...Allahu akbar,,,dia yang kecil itu yang cacat itu,,sam sekali tak mau dikasihani..Allahu akbar ,,,betapa mulia anak ini..dan jujur aja aku langsung menciumnya.....
begitu Allah bila berkehendak,,,sebagai penegasan bahwa Allah masih mencintaiku..Allah membukakan qalbku yang lama tertutup, mencairkan kebekuannya lalu memaksanya menjadi lembut sehingga amat pekalah terhadap lingkungan,,,Allah telah menurunkan ayat ayatNya yang banyak ,,,husnul dan reski hanyalah salah satunya...mereka berdua memang tampak kecil secara fisik,,bahkan tidak sempurna sebagaimana kebanyakan orang...mereka bahkan menjadi bahan lelucon orang yang membuat suasana menjadi segar-manusia manusia itu tlah lupa bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat dari keindahan fisik akan tetapi keikhlasan dalam menjalani takdirnya...
begitulah,,mereka berdua mengajarkan kepadaku bahwa menjadi cacat bukan berarti harus bersedih sehingga tak ada lagi tawa..bahwa menjadi cacat bukan berarti harus mendapat belas kasih dari orang lain,,,husnul masih bisa tersenyum indah lebih indah dari sinaran bulan,,,masih bisa menyanyi-hapal-lirik lagu terkenal saat ini,,,bukan tidak mungkin bila waktunya tiba husnul adalah salah satu hafidzah,,,sebagaimana kebanyakan kejadian pada orang buta,,,sebab karunia Allah pada mereka dalam hapalan biasanya lebih kuat...reski.. dengan bangganya mengatakan-ketika ingin aku bantu untuk aku papah setelah dia disunnat- tak usah kak,,biarkan aku sendiri berjalan,,,subhannalllah...ini sebuah pelajaran berharga,,,yang tidak semua orang bisa lakukan...
mereka memang kecil secara kasat mata,,,tetapi sesungguhnya mereka lebih besar dari pria raksasa yang paling besar sekalipun...banyak diantara manusia yang katanya berbadan besar,,sempurna,,sehingga dikatakan cantik atau gagah..tetapi berjiwa kerdil..mereka tak mampu sekedar untuk tersenyum bila sesuatu terjadi diluar dari rencana mereka,,,bila takdir berkata lain,,maka hanya ada penyesalan diwajah mereka,,,tak mampu tersenyum seperti senyuman indah husnul...atau lebih banyak lagi diantara segolongan manusia yang bila sebagian dari usahanya tidak bersesuain dengan ikhtiar yang dia lakukan maka terus menyalahkan Allah,,,Allah berada pada tempat yang paling buruk dihatinya,,,berputus asa dari rahmat Allah adalah kebisaannya...sehingga tak ada kemandirian,,selalu berharap bantuan dari orang lain,,mengeluh dan lainnya,,,beda dengan reski..tak mau dimanjakan hanya karena dia cacat,,,sebuah sikap pada takdir yang luar biasa..terus terang aku kalah dengan mereka,,sebab itulah meraka menjadi guruku...
namun ada yang aku lupa dari perjumpaan singkat dengan mereka,,,aku lupa mengatakan pada mereka,,bahwa kalian adalah guru kehidupanku...aku lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada keduanya,,,dan aku juga lupa bilang kalau suatu saat nanti aku akan kembali untuk menemui mereka...semoga.

Wednesday, June 22, 2005

etta Tiro

bedebar, ada was was yang semakin memuncak, aku tak sengaja memecahkan gelas ketika aku mencuci piringka tadi,,taumi toh kalo pertama kalinyaki mencuci piring...edd..nassamo grogi..
dan akhirnya dua gelas itu peccah...hati hati kami ( aku dan puang takdir) mengendap keluar mencari kesempatan membuang jauh jauh serpihan, yang lebih layak menjadi artifak itu...
dan kenangan itu terus menumpuk di celebrum kami...hari itu adalah hari pertama aku menginjakkan kaki di kota makassar, pertama kalinya aku jauh dari mammi yang setiap pagi dibuatkan nasi goreng, plus baju sekolah di seterikan..dan hari ini aku harus sendiri, dari kebiasaan manjaku..berada pada kaluarga yang cukup akrab sebenranya harus mempu menyeimbangkan rindu pada etta dan mammi. tetapi ternyata tak banyak yang mampu mereka perbuat..rasa rindu itu terus membukit..hari hari pertama selalu begitu berat..kalau saja mammi tidak berkunjung sering ke makassar, mungkin aku harus angkat koper dari harapan tinggi pendidikan..dokter insinyur atau semacamnya tak akan hidup lagi...mungkin...
apalagi etta tiro..beliau adalah sosok killer kata mahasiswa terhadap dosen yang sedikit tak kenal kompromi,, yah..tatapan matanya yang tajam,, pendiam, dan seubrek kebiasaan "pimpinan proyek" lainnya membuat hari hariku harus ekstra waspada..dan dua gelas yang pecah itu, adalah kesan pertama yang tidak menyenangkan...dan ini adalah awal tersiksanya psikolog aku satu rumah dengan etta tiro ( etta like)...
dan kenangan itu,,dua gelas itu,, kembali terngiang di kepala...setelah 7 tahun yang lalu,,,kenangan itu kembali menguat...telepon yang berdering dari mammi dikampung, membuatnya kembali hadir...
" accung ( panggilan sayang mammi kpd aku), matei etta like ( etta like meninggal)"...innalillai wainna ilaihi rajiu'n...aku terhentak kaget, bukan karena aku tak menerima takdirNYa,, tapi perasaan penyesalan di dada, sebab malam itu aku berencana tuk mabit di rumah etta like, dan rencana kesana tersandung hanya karena hal sepele.., dan ternyata malam itu adalah malam terakhirnya..sampai subuh aku berdoa.. ini adalah takdir semoga beliau mendapat terbaik disisinya..
aku tak begitu akrab denganya, sehingga tak banyak kebaikan yang aku tahu darinya, selama ini aku hanya meperlakukannya seperti orang tua saja, sopan padanya, tidak membantahnya, dan rutinitas akhlaq lainnya. sebab mungkin karena di rumahnya aku hanya tinggal satu tahun, atau lebih sedikit, selebihnya aku hanya bersilaturrahim bila ada waktu senggang.
mungkin bila dua hari dari kematiannya etta tidak mengungkapkan, siapa sebenarnya dia,, kenapa etta like begitu berarti bagi etta ( bapak)..dan dua hari dari kematiannya menjadi saksi...
sambil terisak, menahan air mata yang tak lagi berwujud, etta menceritakan kisah mereka berdua.
dulu ketika masih kecil blum tamat sekolah menengah pertama, aku sangat nakal ( ini sih dah sering diceritakan mah mammi atau etta sendiri). entah dah berapa banyak daftar hitam yang telah dilakukan olehku. karena saking nakalnya, emma ( nenek) sering menangisi kelakuan saya. suatu ketika, saya meminta sesuatu tetapi tidak dikabulkan, akhirnya saya mencuri sarung kakak saya. dan karena perbuatan itu, saya diusir sama bapa ( kakek) . dalam keadaan kalut karena diusir itu, akhirnya etta like datang dan mengatakan " nak ku tuoka di kotae tuo tokko tu"..( nak kalau saya bisa hidup dikota ( mkassar) kamu juga pasti bisa hidup)..
talaona di makassar, fa' iyya di sungke toa" ( mari kita ke makassar, karena saya juga telah diusir juga )
saya mengatakan pada etta like " idimi tu bawang,, nafa' ku de' lao asuka di' " ( saya berharap pada etta karena kalu tidak saya bisa rusak)
dan akhirnya karena kebaikann beliau saya bisa ke makassar, tinggal di jalan titiang, bekerja sebagai tukang sapu jalanan ( hasil lobi etta like dengan salah satu petugas kebersihan kota)
dan juga menjadi tukang jual es dan kue kuean dengan modal yang juga dari etta like...
dan akhirnya saya bisa seperti sekarang( polisi) ini juga karena beliau.
aku jadi terhenyak mendengar cerita etta tadi. kami semua dalam rumah jadi terisak,, dan aku
dua hari kematiannya baru tersadar bahwa beliau ternyata lebih baik dari kebaikan yang aku rasakan selama ini. aku menyesal, tak bisa menemani kepergiannya. Tapi aku juga bertekad untuk menjalin hubungan yang lebih erat lagi dengan mereka ( keluarga yang ditinggalkan) sebagai bakti atas kebaikannya pada etta, dan itu beretai aku juga..
dua gelas itu akan terus menjadi lambang tekadku...
amien...