nafas panjang
tak terasa umurmu telah menginjak 25-an. umur yang beranjak ketangga kedewasaan. sebuah masa yang tak lagi ada kata maaf bagi kesalahan. tak sperti dulu, ketika engkau masih seumur pucuk pisang, engkau begitu mudah mendapatkan pemaafan. mereka semua mengerti kalau kau dapat dengan gampang melambai mengikuti arah angin, karena engkau memang belum punya tangkai yang lumayan. tak seperti sekarang, ketika kulitmu yang mulai berurat ulang. beribu pandangan liar membuatmu dalam pengawasan. tapi kau kuat bertahan, sehingga musafir beroleh manfaat kehangatan.
tak terasa umurkupun mulai berbilang, mencoba mengimbangi kedewasaan yang kau wasiatkan. ada begitu banyak cerita yang berkesan. semua menjadi indah sebab engkau menjadi bingkai kehidupan. dahulu suatu kali, kudapati diriku sedang kesusahan. mencari sebab kerinduan. telah banyak pemohon hinggap di pikiran, namun semua begitu mengawan, tak kebumian.
saat puncak kehampaan, datang seorang sobat mengundang. hendak menyelimuti dinginnya perasaan. dia dengan cinta penuh ketuliusan. mengajarkan aku akan arti perkumpulan. akan arti perjuangan, akan arti bagaimana peroleh hakikat kehidupan. tetapi, dia (pahlawanku, pengundang) yang saat ini membuat sedikiit aku penasaran. sebab kenapa dia pergi tak beralasan. meninggalkan aku hampir sendirian. untung sebelum dia bepergian, dirimu dengan diriku seperti ibu dan anak dalam pangkuan. indah niang. jujur aku katakan. usaha dia padaku membuatnya dah berpenghasilan.
dan saat kekinian, tekad dah kubulatkan. untuk bersamamu berjuang, menegakkan kebenaran. yang wujud dalam risalah kenabiyan. tak ingin kulepas detik panjang, yang berbuah kekalahan. berasa tak keenakan. tapi, semuanya manis berujung ingin. karena sebagaimana yang engkau wasiatkan, dari pelajaran nabiyyin, bahwa syurga adalah tempat kesudahan yang mengabadikan para pejuang yang mukhlisin.
ohh. tarbiyah. tak ingin aku melepaskan dirimu dalam pelukan. biarlah beberapa sobat seperjuangan, jadi berguguran. biarlah tak ada yang menemani aku dalam pendirian, tapi aku tetap akan dalam barisan kesetian. sampai takdir datang sebagai keputusan. hidup mulia atau syahid kudapatkan. ohh..nafas panjang...
tak terasa umurkupun mulai berbilang, mencoba mengimbangi kedewasaan yang kau wasiatkan. ada begitu banyak cerita yang berkesan. semua menjadi indah sebab engkau menjadi bingkai kehidupan. dahulu suatu kali, kudapati diriku sedang kesusahan. mencari sebab kerinduan. telah banyak pemohon hinggap di pikiran, namun semua begitu mengawan, tak kebumian.
saat puncak kehampaan, datang seorang sobat mengundang. hendak menyelimuti dinginnya perasaan. dia dengan cinta penuh ketuliusan. mengajarkan aku akan arti perkumpulan. akan arti perjuangan, akan arti bagaimana peroleh hakikat kehidupan. tetapi, dia (pahlawanku, pengundang) yang saat ini membuat sedikiit aku penasaran. sebab kenapa dia pergi tak beralasan. meninggalkan aku hampir sendirian. untung sebelum dia bepergian, dirimu dengan diriku seperti ibu dan anak dalam pangkuan. indah niang. jujur aku katakan. usaha dia padaku membuatnya dah berpenghasilan.
dan saat kekinian, tekad dah kubulatkan. untuk bersamamu berjuang, menegakkan kebenaran. yang wujud dalam risalah kenabiyan. tak ingin kulepas detik panjang, yang berbuah kekalahan. berasa tak keenakan. tapi, semuanya manis berujung ingin. karena sebagaimana yang engkau wasiatkan, dari pelajaran nabiyyin, bahwa syurga adalah tempat kesudahan yang mengabadikan para pejuang yang mukhlisin.
ohh. tarbiyah. tak ingin aku melepaskan dirimu dalam pelukan. biarlah beberapa sobat seperjuangan, jadi berguguran. biarlah tak ada yang menemani aku dalam pendirian, tapi aku tetap akan dalam barisan kesetian. sampai takdir datang sebagai keputusan. hidup mulia atau syahid kudapatkan. ohh..nafas panjang...


